Ad
Ad
Ad
Wisata Kuliner

Bakmi Mbah Gito : Warung Bakmi Jawa Enak yang Paling Instagram-able Seantero Jogja

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Selain rasanya yang harus enak, salah satu pertimbangan orang saat akan memilih tempat makan adalah suasananya. Suasana yang nyaman juga bisa berpengaruh terhadap selera makan seseorang.  Di era media sosial seperti  saat ini warung, restoran, atau kafe bukan hanya sekedar tempat untuk menghilangkan rasa lapar saja. Tetapi lebih dari itu, tempat makan juga bisa menjadi salah satu tempat untuk ajang mengeksiskan diri.

via : www[dot]diarysivika[dot]com
Selain gudeg, makanan kuliner khas Jogja lain yang paling gampang ditemui adalah bakmi jawa. Makanan satu ini biasanya dijual dengan cara dijajakan disebuah warung sederhanan atau dengan menggunakan gerobak dipinggir-pinggir jalan. Tetapi berbeda dengan Warung Bakmi Jawa Mbah Gito yang ada di Rejowinangun ini. Warung bakmi jawa ini menempati sebuah bangunan yang didominasi dari kayu dan bambu yang biasa untuk membangun kandang sapi. Namun jangan salah, Warung Bakmi Jawa Mbah Gito atau yang sering disebut juga dengan nama Bakmi Jawa Kandang Sapi ini mempunyai tampilan yang sangat artistik. Boleh dikatakan kalau tempat ini merupakan warung bakmi jawa yang paling Instagram-able diseluruh Jogja.

via: travel[dot]kompas[dot]com
Dari luar Warung Bakmi Jawa Mbah Gito ini tampak biasa-biasa saja. Namun saat masuk kedalamnya kita akan dibuat terkesima dengan pemandangan yang ada didalamnya. Batang-batang kayu kering dan juga bambu ditata sedemikian rupa sehingga menghasikan pemandangan yang cukup cantik. Termasuk meja dan kursi yang ada ditempat  ini semuanya  juga terbuat dari kayu.  Kesan kandang sapinya terihat dari beberapa ornamen  seperti lonceng yang digunakan untuk kalung  sapi dan luku (alat bajak tradisional) yang menempel di dinding. Gedhek (anyaman bambu) juga digunakan sebagian  penutup sebagian dinding yang ada disini. Topeng-topeng kayu menempel disebagian tiang kayunya yang semakin menambah kesan artistiknya. Selain itu ada juga beberapa bekas alat pertanian dan juga radio kuno yang juga dijadikan sebagai hiasan.

Via: traveling[dot]maslatip[dot]com
Warung Bakmi Jawa Mbah Gito ini terdiri dari 2 tingkat. Lantai bawah dan lantai atas yang tidak terlalu besar dihubungkan dengan  sebuah tangga yang  juga terbuat kayu. Yang menarik adalah dilantai atas kita bisa melihat seperangkat alat permainan wayang lengkap mulai dari layar sampai  dengan wayang-wayangnya. Sama seperti di lantai bawah, hiasan topeng  kayu dan lampu-lampu antik bisa kita lihat di lantai atas. Hal unik lain yang ada ditempat ini adalah semua  karyawannya menggunakan pakaian tradisional Jawa.

Baca Juga : Berburu Perak dan Kisah Sejarah di Kota Tua-nya Jogja

via : www[dot]diarysivika[dot]com
Menu andalan di tempat  ini tentu saja adalah bakmi Jawanya. Baik bakmi jawa godhog atau goreng rasanya  sama-sama nikmat. Namun yang  paling favorit adalah mie rebus nyemek atau mie rebus dengan kuah yang sangat sedikit. Seperti  yang digunakan oleh penjual bakmi Jawa pada umumnya, jenis mie yang digunakan di Bakmi Jawa Mbah Gito ini adalah mie basah. Walaupun bumbu yang digunakan sangat sederhana hanya kemiri, bawang putih, merica, dan udang namun rasanya  tetap tidak kalah nikmat  dengan tambahan bahan lain seperti irisan tomat, kubis, telur bebek, dan bawang goreng. Menu lain yang dijual ditempat ini antara lain capcay, magelangan, nasi goreng, dan rica-rica.

via: travel[dot]kompas[dot]com
Warung Bakmi Jawa Mbah Gito terletak di Jalan Nyi Ageng Nis No.9 Peleman, Rejowinangun,  Kotagede.

Meski harus blusukan untuk menuju kesini, (Baca juga : Yuk Blusukan di Jogja Untuk Berburu Kuliner Maknyus) Bakmi Jawa Mbah Gito termasuk salah satu  kuliner wajib yang kami rekomendasikan bagi siapapun yang sedng mencari referensi paket wisata Jogja. Bakmi Jawa Mbah Gito buka setiap hari mulai pukul 11 siang sampai dengan pukul 11 malam. Khusus untuk hari Sabtu Warung Bakmi Jawa Mbah Gito buka mulai pukul 4 sore sampai dengan pukul 11 malam. Harga bakmi  Jawanya mulai  Rp 20.000/porsi. (*)

 

__

Author : Nova AristiantoEditorAjeng Darmista

Tulis Komentar